Don’t Waste Your Breath
Let everything that has breath praise the Lord. —Psalm 150:6
If I were to scoop up a handful of dirt and blow into it, all I would get is a dirty face. When God did it, He got a living, breathing human being capable of thinking, feeling, dreaming, loving, reproducing, and living forever.
As one of these human beings, I speak of “catching” my breath, “holding” my breath, or “saving” my breath, but these are idioms of language. I cannot save my breath for use at a later time. If I don’t use the one I have now, I’ll lose it, and I may even lose consciousness.
When God breathed into Adam, He gave more than life; He gave a reason to live: Worship! As the psalmist said, “Let everything that has breath praise the Lord” (Ps. 150:6).
This means that we waste our breath when we use it for something that doesn’t honor the One in whom “we live and move and have our being” (Acts 17:28).
Although we cannot blow life into a handful of dirt, we can use our breath to speak words of comfort, to sing songs of praise, and to run to help the sick and oppressed. When we use our breath to honor our Creator with our unique combination of talents, abilities, and opportunities, we will never be wasting it. — Julie Ackerman Link
Breathe on me, Breath of God,
Fill me with life anew,
That I may love what Thou dost love,
And do what Thou wouldst do. —Hatch
All that I am and have I owe to Jesus.
JANGAN SIA-SIAKAN NAPASMU
Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! —Mazmur 150:6
Jika saya mengambil segenggam debu lalu meniupnya, yang saya dapatkan hanyalah wajah yang kotor. Namun ketika Allah yang melakukannya, Dia membentuk manusia yang hidup dan bernapas, makhluk yang mampu berpikir, memiliki perasaan, bermimpi, mengasihi, berkembang biak, dan hidup selamanya.
Sebagai salah seorang manusia, saya berbicara tentang bernapas “terengah-engah”, “menahan” napas, atau “menyimpan” napas saya, tetapi ini hanyalah ungkapan bahasa saja. Saya tidak dapat menahan napas saya untuk dipakai di waktu mendatang. Jika saya tidak menggunakan napas yang ada sekarang, saya akan kehilangan napas, dan saya bahkan mungkin kehilangan kesadaran.
Saat Allah menghembuskan napas kehidupan kepada Adam, Dia memberinya lebih dari sekadar hidup; Dia memberinya satu alasan untuk hidup: Menyembah-Nya! Seperti yang dikatakan Pemazmur, “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN” (Mzm. 150:6).
Ini artinya, kita sedang menyia-nyiakan napas ketika kita menggunakannya untuk melakukan sesuatu yang tidak menghormati Allah yang di dalam-Nya “kita hidup, kita bergerak” (Kis. 17:28).
Meskipun kita tidak dapat menghembuskan napas kita untuk menghidupkan segenggam debu, kita dapat menggunakan napas kita untuk mengucapkan kata-kata yang menghibur, menyanyikan lagulagu pujian, dan berusaha menolong orang yang sakit dan tertindas. Ketika kita menggunakan napas untuk menghormati Pencipta kita, dengan perpaduan unik dari bakat, kemampuan, dan kesempatan yang kita miliki, kita tidak akan pernah menyia-nyiakannya. —JAL
Ya hembuskan Roh-Mu,
Beriku hidup yang baru,
Agar tiap perbuatanku,
Meniru perbuatan-Mu. —Hatch
Aku berutang kepada Yesus atas diriku dan semua milikku.
Add a comment